SYAMSUL HUDA CHUMAEDY, M.Pd
Doktren Sains Al Qur'an Nusantara dan Madrasah Aliyah Ma'arif NU Sains Al-Qur'an Sumbang membuka pendaftaran santri baru
Selasa, 24 Februari 2026
SEMAYI
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
Jumat, 23 Januari 2026
Barang siapa berkhidmah dengan sepenuh hati, maka ia akan dibalas dengan kemuliaan yang setimpal.
Ungkapan Salah satu Ulama “Barangsiapa berkhidmah dengan baik maka ia akan dibalas dengan pelayanan yang terbaik — من حسنت خدمته عظمت كرامته.”
**Kemuliaan di Balik Khidmah:
Ketika Pelayanan Menjadi Jalan Derajat**
Dalam tradisi para ulama dan orang-orang saleh, khidmah bukan sekadar aktivitas membantu atau melayani. Khidmah adalah jalan pembentukan jiwa. Sebuah proses yang mengikis ego, menanamkan adab, dan membuka pintu-pintu kebaikan yang tak selalu terlihat oleh mata lahir.
Ungkapan hikmah “من حسنت خدمته عظمت كرامته” — Siapa yang membaguskan khidmahnya, niscaya besar pula kemuliaannya — menjadi pengingat bahwa segala bentuk pelayanan yang dilakukan dengan hati akan kembali kepada pelakunya dengan kemuliaan yang tak pernah sia-sia.
Khidmah Adalah Cermin Kerendahan Hati
Tidak ada khidmah tanpa kerendahan hati. Ia menuntut seseorang untuk menurunkan ego, meletakkan dirinya di bawah demi tujuan yang lebih mulia: melayani, membantu, dan memudahkan urusan orang lain.
Khidmah adalah latihan batin yang menumbuhkan adab. Di sinilah seseorang belajar menahan diri, menjaga sikap, serta mengutamakan manfaat bagi orang lain daripada dirinya sendiri.
Pelayanan yang Baik Menghadirkan Kemuliaan
Barangsiapa khidmah dengan baik, ia seakan sedang menyiapkan wadah kemuliaan untuk dirinya sendiri. Allah tidak pernah menelantarkan amal. Keringat yang menetes, tenaga yang habis, bahkan kesabaran yang terkuras demi pelayanan — semuanya akan kembali dalam bentuk penghargaan, doa yang baik, keberkahan hidup, dan kelapangan rezeki.
Sebaliknya, pelayanan yang dilakukan setengah hati hanya menghasilkan lelah tanpa berkah.
Khidmah Mengangkat Derajat di Hadapan Guru dan Sesama
Dalam dunia pesantren dan majlis ilmu, khidmah adalah maqam yang sangat tinggi. Banyak ulama besar tumbuh dari perjalanan panjang sebagai pelayan kebaikan: melayani guru, melayani tamu, melayani jamaah, dan melayani masyarakat.
Mereka tidak menjadi mulia karena kata-kata, tetapi karena diam-diam berkhidmah tanpa berharap pujian.
Di sinilah hikmah itu menemukan bentuknya: khidmah menumbuhkan kepercayaan, mewariskan adab, dan membuka pintu keberkahan yang lebih besar daripada ilmu yang dipelajari sekalipun.
Khidmah Adalah Jalan Orang Terpilih
Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berkhidmah. Kesempatan untuk melayani adalah bentuk cinta Allah yang halus. Sebab melalui khidmah, seseorang ditempa menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih matang, dan lebih paham bahwa hidup bukan tentang diri sendiri.
Pelayanan yang baik bukan hanya membuat orang lain merasa nyaman, tetapi juga meninggikan derajat pelakunya di sisi Allah dan manusia.
Penutup: Bekas Khidmah Tidak Pernah Hilang
Setiap khidmah yang dilakukan dengan niat yang bersih akan menciptakan ruang kemuliaan dalam hidup. Orang yang membiasakan diri dalam pelayanan akan mendapatkan pelayanan yang terbaik pula: dari manusia, dari alam, dan dari Allah sebagai Pemilik segala kemuliaan.
Pada akhirnya, hikmah “من حسنت خدمته عظمت كرامته” bukan sekadar kalimat indah, tetapi peta jalan bagi siapa pun yang ingin hidupnya penuh keberkahan dan dihormati karena akhlaknya.
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
Sabtu, 13 Desember 2025
ANAK EMASKU
Mbiyen ,aku duwe murid jenengane Tajib . Aku isih kemutan baen tekan siki, buke cathetaneisine mung isine gambar mobil mobilan, angger ulangan kertas jawabane ora muni slalune digambari nisan. Ana cap jempol ireng nang lembar jawabane. udu guder mangsi pulpen. Tapi oli.
Kuku-kukune tansah glepot. Ambune udu wangi parfum, tapi mambu bensin campur panase srengenge.
Saben ulangan harian : Bijenane ya mung 40. ukuman wis kebal ...? ora paham. Urutane jafwal pelajaran apamaning buku cathetane tansah kewalik terus.
Aku sering negur: "Jib, wisuh ndisit sih tanganmu glopot sedurunge mlebu pelajatan!" "Kowe niyat sekolah ora sih? Kertas jawabane kotor kaya kiye kepriwe aku atep ngoreksine?"
Deweke mung nyengir. "Ma'af ngapunten sanget Pak Huda, wau nembe beneraken rantai motor kanca teng parkiran."
Nalikane pas kuwe, sekolahan agi ana acara geden. Pentas Seni + Perpisahan Kelas 12 Madrasah Aliyah Sains Al Qur'an Panggunge megah. Sound system horag menggelegar. Tamu undangane penuh ngebeki tratagan.
Ujug -ujug ... PET! Mati listrik total. Genset sekolah watuk-watuk, terussne mati. Amleng. Panitiyane melu panik. Kepala Sekolah pucat. Teknisi sekolah tek goleti jere kanca wau mpun pamit sakit.
Acarane ngancem bakale bubar. Osing tir wiramg pidsm nek gagal total.
Nang kono setengah panike napak/ibi guru-guru... arep nelpon bengkel tungkan, lan dspiturute, Aku weruh Tajob mlayu meng mbiri panggung. Isih nganggo seragam batik, deeeke mbukak jas almamatere.
Deweke njuran ndebrok ngarep dandinge genset tua kuwemau. Ora mawi nganggo buku manual. Tanpa rumus fisika. Tangane sing "kotor" kuwe mlayu banter banget cepet trengginas Mbukak klep, mutar baut, nyambung kabel sing pedhot.
Lambene komat-kamit. udu maca mantra, tapi nganalisa mesin. "Niku carburetor-e banjir, Pak. Busi-ne uga kotor,"nylingak ngakoni.
Lima menit sing dirasakna kayane koch en oli.se jam lewi. Njuran ngadeg. Keringate gpbyos pisan. Tangane tambah kenang jligen oli ireng tur kotor
Deweke narik tuas genset sekuwat tenaga. Brum... BRUMMM!
Lampune panggung murub semlorot pisana! Sound system moni! Sing pada nang lapangan kemecap. "Hidup Tajul! Hidup Tajulk!"
Dina kiye, Tajib sing bijenane 40 nang kertas... tapi siki oleh bijenan 1.000 ing kasunyatan urip.
Minggu wingi bar bagi rapot, mobil ku mogok nang dalan gede jalur aspal propinsi . Mesin overheat. Asap ngebul. aku inggiraken golet parkir, bingung kudu telepon siapa.
Ujug-ujug- ana mobil double cabin gagahmandeg nang ngarep parkiranku. Stiker templekane, sing monine "Tajib Engineering Solutions".
Njuran bocah mudun mbukan laeange mobil turun. Ucwh awake gagah tegap, rapi. Tapine pas deweke ngaseng salaman mumg aku ... aku ngrasa isih kenal tekstur tangane sing kasar kaya kiye
"Pak Huda kan?"olehe nyapa karo mbungkukaken awale nyambi senyum. niku Tajib siBocah "tangan oli" mau.
Sikine deweke wis duwe bengkel gedhe lan dadi kontraktor mesin. Deweke beneraken mobilku ora nganti tekan 10 menit. Gratis.
Karo ngelapi tangane, deweke nuli ngomong : "Pak, matur nuwun nggih ." "Riyin Bapak mboten nate paring duka soal tangan kula ingkang cemeng." "Bapak manung nesu nekane kula mboten ndamel PR. Ananging Bapak mboten nate ngina hobi kula."
"Pas Bapak ngendikani 'Tanganmu niki emas' waktu benerna genset ganu... kuwe sing gawe kula wantun mbukak bengkel."
Aku mrebel mili nang pinggir dalan arah baturaden mau. Udu merga sedih. Tapine bangga monggok tekan ulu ati.
Fewek sering nglalekaken Kecerdasan niku bentuke beda-beda. Ana sing cerdas ing ujung pena. Ana sing cerdas ing ujung obeng.
Menawa dinavkiye ana muridmu sing bijen tugase jeblok tapine jago benerna kipas angin... Aja dimatikan semangate. Sapa ngerti, tangan kotor dewekelah sing mengkone nulung kaya kedadeyan awake dewek nalikane mogok nangbndalan panguripan.
Nate nduwe murid kang "akademike kurang" tapi "skill panguripane jago"? Absen di bawah!
_____Hudabrah Cakebasen ______
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
Selasa, 02 Desember 2025
Pelatihan Metode Keprmukaan
Materi ini menjadi salah satu inti dari keseluruhan pelatihan, mengingat prinsip dasar dan metode kepramukaan merupakan fondasi utama dalam seluruh aktivitas Pramuka, khususnya bagi Ka Mabigus selaku pemangku kebijakan di gugus depan. Dalam penyampaiannya, Kak Yusup Supriyadi , SH menegaskan bahwa pemahaman terhadap PDK-MK bukan hanya bersifat teoritis, namun juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Prinsip Dasar Kepramukaan adalah nilai-nilai yang menjadi dasar sikap dan perilaku seorang Pramuka, sedangkan Metode Kepramukaan yaiktu cara mendidik yang khas dan membedakan Pramuka dengan organisasi kepemudaan lainnya,” jelas Kak Yusup Supriyadi, SH kepada sekitar 160 peserta yang berasal dari berbagai pangkalan di Kwartir Ranting Purwokerto Barat.
Ia memaparkan bahwa tiga Prinsip Dasar Kepramukaan, yaitu Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, peduli terhadap sesama dan alam sekitar, serta hidup tertib dan disiplin, harus menjadi pegangan hidup setiap Pramuka. Prinsip tersebut kemudian dijalankan melalui delapan metode kepramukaan, seperti sistem among, kegiatan yang menarik dan menantang, satuan kecil, belajar sambil melakukan, hingga sistem tanda kecakapan.
Suasana penyampaian materi berlangsung aktif dan dinamis. Kak Yusup Supriyadi dan Tim Pengembang Out Door Menejemen Game tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak peserta berdiskusi melalui studi kasus dan praktik peran yang menekankan pentingnya pengamalan PDK-MK dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam kepemimpinan.
“Metode Kepramukaan itu bukan sekadar kegiatan permainan atau jelajah alam. Tapi bagaimana melalui itu semua, karakter anak muda terbentuk: menjadi mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan peduli. Inilah kekuatan pendidikan kepramukaan,” lanjutnya.
Para peserta tampak antusias mengikuti sesi ini. Mereka dengan cermat, bertanya dengan kritis, bahkan berbagi pengalaman saat mencoba menerapkan metode kepramukaan di gugus depan masing-masing. Banyak peserta merasa bahwa materi ini membuka wawasan baru dan memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang peran mereka sebagai pemimpin muda.
Kegiatan LPK Kwarcab Purbalingga 2025 sendiri diselenggarakan selama tiga hari, yakni pada 1–3 Agustus 2025, bertempat di Bumi Perkemahan Munjuluhur, dan diikuti oleh peserta terpilih dari berbagai pangkalan. Kegiatan ini bertujuan membekali para Pramuka Penegak dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepemimpinan yang tangguh dan berkarakter.
Dengan penyampaian materi oleh Kak Yusup, diharapkan para peserta tidak hanya memahami prinsip dan metode kepramukaan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten dalam proses membina, memimpin, dan berperan aktif di tengah masyarakat. (Dimas Dwi Kurniawan)
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
NYELUK BOJO SEKANG GUNDUKAN DUKA
Dening Hudabrah Cakebasen
Kisah Bojo sing ora tau pasrah nalika Adzan kang dadi pungkasane
Angin subuh esuk mau rasane adem. Kabupaten sing winginane ramai owaah dadi segar rereged, lumpur, lan debu. Tapi ing antarane ambu lemah kang teles uga suara mesin bego sing ngtaung ora liren, ana sawijine swara sing justru paling alon sartane lembut ngungkuli glepung … nanging paling ngrasuk ati sing ngrugokna. Swara wong lanang, ngadeg ing antarane longsoran, ngangkat tangan, njuran ambyar mecah swasana sing banget ademe satengahe laut lumpur sing pancene wis banget apale merga kawit cilik kulinane ngapalna :
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Jenenge Mas Sugianto. Lan saben keprungu swara adzan sekang deweke nggawe gemetar, deweke ngundang siji jeneng karo mbatin: Fitriyani bojone mas giyanto, wong wadon sing dadi sisihane ing saben dinane ing ndalem kasepen kangggo ngurangimasak masike kahanan ndunya. Deweke gemiyen seringe guyon kawitane hal-hal sepele; rebutan remote TV, bengak bengok soal beceran saben wulan, kepara malah saling sindir sapa sing paling sering ngelalekna mateni rice cooker. Tapine kabeh mau sikine mung kayadene impen sing adoh banget kanggo dijamah maning.
Saben dinane mung dadi pengarep arep
Sapete dina kawiwitane bencana mau ngrenggut meh sekabehane, Mas Giyanto ora tau bali ngumah. Mripate abang kaya lagi beleken, klambine guder glepot lumpur, tangane lecet, tapi lambene tansah teles ora oclat sekang lafadz swara adzan.
Akeh perkara kang urung bisa dingerteni.
“Pak, ngaso ndisit. Swara bego sing ora leren leren.”
Tapi deweke malh mung karo mesem. Senyum sing meh pecah dadi tangis.
“Aku wedi… nekane mandeg ngundang deweke, njuran dewkek ora krungu aku,” omonge sing lirih.
Ing tengah brisik swara raungan ekskavator, jeritan keluarga layan, lan udan sing banget derese nganti prang pirang wengi sedawane seeminggu, deweke tetep ngadeg.Ora karo ngundangi “Fitri… Fitri…” kaya pengadatane bojo liyane. nyeluki bojone sing ilang. Tapi deweke milih ukara paling suci sing deweke mangerteni, ukara sing biasane kanggo nggugah umat sing isih kangeten banget kesele nyambut gawe saeben dinane, sing biasa kanggo nyatukaken barisan shalat.
Adzan.
Timbalan Kanggo Balik.
Deweke yakin, lamon swara manungsa ora bakal gutul, swara ngibadah mampu nembus panggonan sing oara bakal bisa kejangkau.
Katresnan sing ora nggawe pasrah
Dina kaping papat, pawongan relawan medhek karo nahan luh.
“Pak, apa sing bisa nggawe bapake kuwat tekan siki?”
Mas Sugiyanto mandeng puing-puing sing saya suwe tansaya anyep. “Merga aku tau janji… nresnani nganti tekane pati. Tapine aku ora tau mandheg nresnani sapungkase kuwe .”
Deweke ora perduli awakke nggigil. Ora peduli swara entek nganti serak, karepku bisa keprungu pecah. Kanggo deweke, saben adzan sing tek untabakna kanggo pengikat, tali tlampar sing deweke balangna aring pepetenge ati supaya bisa meokna cahya kang hilang.
Ana sing ngomong kuwe mung sia-sia.
Ana sing ngucap kuwe donga paling endah sing nate keprungu.
Akhire kang kanggo nyewek Jiwa
Nalika dina, srengenge justru krasa paling peteng, kabar mau tekan.
Tim nemokna Fitriyani.
Awak sing ganu tansah nyiapaken kopi panas saben esuk …
Tangan sing ganu tansah mberna krah klambiku
Pipi sing tau tkesipu nalika dilamar nang sangarep rumah wong tuwamu…
Siki anteng meneng tur kaku sing bisa nggawe kabeh wong sing weruh pada ndingkluk.
Mas Sugiyanto ora semaput. Ora njerit. Deweke mung njagong nheprok nag lemah, ngrangku awang awang sing hampa. Terus, kanggone sing pungkasan, deweke mbalik ngadzani. alon alon. ora nggo ngundang sholat ningen kanggo ngelosna .
“La ilaha illallah…”
Banyu luh kang tumetes, tanpa swara.
Ana tresna sing isih bisa dislamatna ing ndalem panguripan.
Ana katresnan sing mung bisa bisa direngkuh ing ndalem dunga.
Wong-wong ing sekitar melu nahan isak tangis. Ora ana ukara sng cocok kanggobe nglipur bojo sing wis menehe segalane — awak, wektu, swara, bahkan keputus-asaan — demi nggoleti belahan jiwan.
Katresna ora tahu oclat lunga
Kisahe viral. Foto deweke ngadheg ing antara puing klawan tangan ngangkat wis beredar meng ngendi ora. Akeh sing nangis, akeh sing ndongakna, akeh sing njinggleng meneng suwe bar ngrungokna crita merga dadane ngrasakna sesak.
Lan wengi kuwe, bar dikubur rampung, Mas Sugiyanto nlisik ing makam sing isih teles:
“Nekan mengko aku bisa turu maning… benlah swara adzanku bisa mbatiri awakmu.”
Ana katresnan sing ora butuh seksi.
Ana katresnan sing ora arep nuntut akhir bahagia.
Ana katresnan sing, bahkan sewise dipisahna dening lemah lan nasib, isih terus urip ing ndalem swara lirih bojo sing ngundangi sekang antarae gundhukan duka.
Kadang, katresnan paling setia udu babagan saling nduweni.
Tapi merga ora tau mandheg nggoleti, bahkan nalikane deweke ngerteni sing sampeyan dan aku goleti ora bakal bisa bali.
#kisah_nyata
#viral_longsor_Majenang
#bencana_alam
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
Kamis, 27 November 2025
MGMP BASA PANGINYONGAN
Sugeng rawuh
Sugeng pitepangan
Menika Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa Panginyongan SMAN/S-MA Kutha Banyumas. Muga-muga saged migunani tumrap liyan. Nuwun 🙏🏻
enjang menika slasa pahing, 11 November 2025 manggen wonten ingbaula SMA Negeri Jatilaeang saweg kalampahsken MGMP BasacJawa Panginyongan SMA-MAKab Banyumas
Adicara dipun wiwiti dening Kepala SMA NegervJatilawan Bapak Eko M.Pd kanthi menehi pitutur luhur kangge nyengkuyung pawiyatan menika katerasaken pamedar sabda saking ibu minaka sesepuh kang mandegani MGMP menika
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati
Sabtu, 08 November 2025
JIKA CINTA ADALAH PRAMUKA
JIKA CINTA ADALAH PRAMUKA
Kak Hudabrah Cakebasen
Pusdiklatcab Kendalisada
Jika cinta adalah Pramuka maka kamu adalah api unggun yang slalu kutunggu berulang kali melihatnya namun tak bosan menyambanginya seperti halnya sandi rumput yang penuh misteri aku melihat itu dari sorot matamu kedalama relung yang memikat misteri, namun membuatku jadi tambah penasaran aku berharap disuatu saat nanti cita citamu seperti phionering yang kokoh seerat simpul jerat dan ikatan pangkal menghubungkan dua tali yang saling mengikat.
Urip kuwe mung nunggu wektu loro 1. Nunggu Wektu Sholat 2. Nunggu Wektune Disholati







