Barang siapa berkhidmah dengan sepenuh hati, maka ia akan dibalas dengan kemuliaan yang setimpal.
Ungkapan Salah satu Ulama “Barangsiapa berkhidmah dengan baik maka ia akan dibalas dengan pelayanan yang terbaik — من حسنت خدمته عظمت كرامته.”
**Kemuliaan di Balik Khidmah:
Ketika Pelayanan Menjadi Jalan Derajat**
Dalam tradisi para ulama dan orang-orang saleh, khidmah bukan sekadar aktivitas membantu atau melayani. Khidmah adalah jalan pembentukan jiwa. Sebuah proses yang mengikis ego, menanamkan adab, dan membuka pintu-pintu kebaikan yang tak selalu terlihat oleh mata lahir.
Ungkapan hikmah “من حسنت خدمته عظمت كرامته” — Siapa yang membaguskan khidmahnya, niscaya besar pula kemuliaannya — menjadi pengingat bahwa segala bentuk pelayanan yang dilakukan dengan hati akan kembali kepada pelakunya dengan kemuliaan yang tak pernah sia-sia.
Khidmah Adalah Cermin Kerendahan Hati
Tidak ada khidmah tanpa kerendahan hati. Ia menuntut seseorang untuk menurunkan ego, meletakkan dirinya di bawah demi tujuan yang lebih mulia: melayani, membantu, dan memudahkan urusan orang lain.
Khidmah adalah latihan batin yang menumbuhkan adab. Di sinilah seseorang belajar menahan diri, menjaga sikap, serta mengutamakan manfaat bagi orang lain daripada dirinya sendiri.
Pelayanan yang Baik Menghadirkan Kemuliaan
Barangsiapa khidmah dengan baik, ia seakan sedang menyiapkan wadah kemuliaan untuk dirinya sendiri. Allah tidak pernah menelantarkan amal. Keringat yang menetes, tenaga yang habis, bahkan kesabaran yang terkuras demi pelayanan — semuanya akan kembali dalam bentuk penghargaan, doa yang baik, keberkahan hidup, dan kelapangan rezeki.
Sebaliknya, pelayanan yang dilakukan setengah hati hanya menghasilkan lelah tanpa berkah.
Khidmah Mengangkat Derajat di Hadapan Guru dan Sesama
Dalam dunia pesantren dan majlis ilmu, khidmah adalah maqam yang sangat tinggi. Banyak ulama besar tumbuh dari perjalanan panjang sebagai pelayan kebaikan: melayani guru, melayani tamu, melayani jamaah, dan melayani masyarakat.
Mereka tidak menjadi mulia karena kata-kata, tetapi karena diam-diam berkhidmah tanpa berharap pujian.
Di sinilah hikmah itu menemukan bentuknya: khidmah menumbuhkan kepercayaan, mewariskan adab, dan membuka pintu keberkahan yang lebih besar daripada ilmu yang dipelajari sekalipun.
Khidmah Adalah Jalan Orang Terpilih
Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berkhidmah. Kesempatan untuk melayani adalah bentuk cinta Allah yang halus. Sebab melalui khidmah, seseorang ditempa menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih matang, dan lebih paham bahwa hidup bukan tentang diri sendiri.
Pelayanan yang baik bukan hanya membuat orang lain merasa nyaman, tetapi juga meninggikan derajat pelakunya di sisi Allah dan manusia.
Penutup: Bekas Khidmah Tidak Pernah Hilang
Setiap khidmah yang dilakukan dengan niat yang bersih akan menciptakan ruang kemuliaan dalam hidup. Orang yang membiasakan diri dalam pelayanan akan mendapatkan pelayanan yang terbaik pula: dari manusia, dari alam, dan dari Allah sebagai Pemilik segala kemuliaan.
Pada akhirnya, hikmah “من حسنت خدمته عظمت كرامته” bukan sekadar kalimat indah, tetapi peta jalan bagi siapa pun yang ingin hidupnya penuh keberkahan dan dihormati karena akhlaknya.






